Pasar Saham Indonesia Berpotensi Mengalami Kerugian Lebih Lanjut

Pasar saham Indonesia mengakhiri reli tiga hari pada Senin, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melonjak lebih dari 350 poin atau 5,4 persen. Kini, IHSG berada di bawah level 6.600 poin dan diperkirakan akan melanjutkan pelemahan pada Selasa. Sentimen negatif global yang dipicu oleh kekhawatiran resesi dan kondisi ekonomi dunia berpotensi menekan pasar saham di kawasan Asia, setelah bursa di Eropa dan Amerika Serikat ditutup melemah tajam.
Pada perdagangan Senin, IHSG turun tipis seiring tekanan pada saham sektor keuangan dan sumber daya alam, meskipun saham sektor semen berhasil menopang indeks. IHSG melemah 37,79 poin atau 0,57 persen dan berakhir di level 6.598,21, setelah bergerak dalam rentang 6.568,13 hingga 6.629,44 sepanjang sesi perdagangan.
Beberapa saham aktif yang mengalami pergerakan signifikan antara lain Bank CIMB Niaga yang turun 0,90 persen, Bank Mandiri yang anjlok 2,69 persen, serta Bank Negara Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia yang masing-masing melemah 1,98 persen dan 1,31 persen. Sementara itu, Bank Danamon Indonesia berhasil naik 0,41 persen.
Di sektor industri, saham Indocement melonjak 3,05 persen, sedangkan Semen Indonesia meroket 3,39 persen. Indofood Sukses Makmur juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 4,14 persen. Sebaliknya, United Tractors turun 1,66 persen, Astra International merosot 3,25 persen, dan Astra Agro Lestari melemah 0,86 persen.
Sektor pertambangan mengalami tekanan besar dengan Aneka Tambang yang anjlok 8,59 persen, Vale Indonesia yang jatuh 9,68 persen, serta Timah yang turun 2,96 persen. Di sisi lain, Bumi Resources justru melejit 8,51 persen. Beberapa saham lainnya seperti Jasa Marga turun 0,26 persen, sementara Bank Central Asia, Bank Maybank Indonesia, dan Indosat Ooredoo Hutchison ditutup stagnan.
Pasar Global dalam Tren Koreksi
Bursa saham Amerika Serikat menunjukkan tren konsolidasi lebih lanjut pada Senin, dengan indeks utama dibuka melemah dan terus mengalami tekanan sepanjang hari.
Indeks Dow Jones jatuh 890,01 poin atau 2,08 persen menjadi 41.911,71. Sementara itu, NASDAQ anjlok 727,90 poin atau 4,00 persen ke level 17.468,32, dan S&P 500 turun 155,64 poin atau 2,70 persen ke 5.614,56.
Pelemahan di Wall Street terjadi akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan, setelah Presiden AS Donald Trump tidak menutup kemungkinan terjadinya resesi pasca kebijakan tarifnya terhadap Meksiko, Kanada, dan Tiongkok.
Para pelaku pasar bersikap hati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting pekan ini, termasuk laporan inflasi harga konsumen dan produsen, serta survei sentimen konsumen dan ekspektasi inflasi.
Harga Minyak Terjun ke Level Terendah dalam Enam Bulan
Harga minyak mentah merosot ke level terendah dalam enam bulan pada Senin, tertekan oleh kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan potensi resesi di Amerika Serikat yang mengurangi prospek permintaan energi.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sebesar $1,01 atau 1,5 persen, menetap di harga $66,03 per barel, yang merupakan harga penutupan terendah sejak 10 September 2024.