Pasar Saham Indonesia Anjlok, Pemicu Penghentian Perdagangan Sementara

Pasar Saham Indonesia Anjlok, Pemicu Penghentian Perdagangan Sementara

Pasar saham Indonesia mengalami guncangan besar pada Selasa pagi, dengan tekanan jual yang meningkat drastis. Saat pembukaan perdagangan di Bursa Efek Jakarta, situasi tampak buruk, meskipun pergerakan saham yang berfluktuasi bukanlah hal asing bagi para investor di Indonesia.

Namun, kondisi semakin memburuk. Penjualan besar-besaran terjadi menjelang siang, mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 7,1%—penurunan harian terdalam sejak 2011.

Penurunan tajam ini memicu penghentian perdagangan sementara (circuit breaker) selama 30 menit setelah indeks acuan anjlok lebih dari 5% untuk pertama kalinya sejak 2020. Kejatuhan IHSG terjadi di saat pasar saham Asia lainnya justru mengalami reli, menciptakan kekhawatiran di kalangan investor.

Para analis dan pedagang pasar modal menyebut tidak ada satu faktor tunggal yang menyebabkan aksi jual besar-besaran ini. Namun, kombinasi dari berbagai faktor diyakini menjadi pemicunya, termasuk kekhawatiran terhadap kebijakan populis Presiden Prabowo Subianto, aksi likuidasi paksa, dan ketidakpastian mengenai kepemimpinan di Kementerian Keuangan.

“Investor asing tampak khawatir dengan sinyal yang dikirimkan oleh Prabowo terkait realokasi anggaran dan kemampuan Kementerian Keuangan dalam menjaga disiplin fiskal,” kata Homin Lee, ahli strategi makro senior di Lombard Odier Ltd., Singapura. “Melemahnya penerimaan negara dan defisit awal yang lebih cepat dari perkiraan kembali menimbulkan kecemasan pasar terhadap stabilitas kabinet.”

Selain aksi jual yang masif, volatilitas 30 hari IHSG melonjak ke level tertinggi sejak era pandemi Covid-19 pada Mei 2020. Sepanjang tahun ini, pasar saham Indonesia telah anjlok 12%, menjadikannya indeks saham utama dengan kinerja terburuk kedua di dunia setelah Thailand.

Investor asing juga mencatatkan arus modal keluar besar-besaran, dengan penjualan bersih saham Indonesia mencapai 1,6 miliar dolar AS pada kuartal ini. Angka tersebut bahkan menghapus seluruh aliran modal masuk sepanjang tahun lalu, memperlihatkan tingginya tingkat kehati-hatian investor global terhadap pasar Indonesia.

Meskipun pasar Asia Tenggara secara keseluruhan mengalami tekanan sejak kemenangan Donald Trump dalam pemilu AS yang memperkuat dolar, investor global melihat Indonesia sebagai titik perhatian utama. Kekhawatiran utama mereka adalah konsolidasi kekuasaan yang tidak terduga oleh Presiden Prabowo.

Prabowo berupaya mengalihkan dana ke proyek-proyek prioritasnya sambil memangkas pengeluaran di sektor lain, yang semakin mengguncang kepercayaan investor. Salah satu contoh kebijakan kontroversialnya adalah pembentukan dana abadi negara (sovereign wealth fund) Danantara. Bulan lalu, Danantara mengumumkan akan mengambil alih pengelolaan tujuh perusahaan milik negara dan melapor langsung kepada Presiden.

Indonesia juga mencatat defisit anggaran yang tidak terduga pada Februari, akibat penurunan lebih dari 20% dalam penerimaan negara. Kondisi ini semakin memperbesar kekhawatiran akan kesehatan keuangan pemerintah dan arah kebijakan ekonomi ke depan.

Fauzi Hasan